Semalam aku mencoba browsing tentang pesantrenku, Husnul Khotimah Islamic Boarding School berharap menemukan sesuatu yang hilang pada diriku. Ada beberapa web dab blog yang menulis tentang pesantren ini. Sepertinya ada satu alamat web yang resmi di rilis oleh pihak pesantren. Terdapat banyak gambar yang dipampang disana. Kemajuan pembangunan begitu pesat, ada lapangan olahraga baru, air mancurnya, kopontren, de el el. Tapi ada satu bangunan yang tak terlupakan dan tampak seperti beberapa tahun yang lalu. Bangunan ini adalah pusat segala aktivitas. Termasuk istirahat sekalipun… bagunan masjid Al Husna yang megah.
Aku adalah salah seorang alumni ponpes ini. Tahun 2002 merupakan akhir masa studiku di sini. Banyak sudah kenangan yang tak terlupakan. Masih ingat suasana ketika harus antri makan,antri mandi dan satu Sali antri ke WC. Memang kehidupan disini serba antri. Bahkan untuk mengikuti ujian sekolah baik lisan atau tulisanpun juga mesti antri.
Kenangan ketika harus makan bareng dengan satu nampan bersama sohib-sohib tercinta menjadi bagian tersendiri dalam hati. Kenangan itu seolah baru kemaren kami bertemu. Berdebat tentang aneka masalah OSHK, OSISnya di HK, masalah kepanduan (pramuka) masalah kamar dan juga masalah-masalah pribadi.
Masih belum terlupa juga satu waktu ketika harus kemping di sebuah daerah ketika musim hujan. Wah semua kuyup, tenda juga basah hingga terpaksa semua peserta ngungsi ke sebuah gedung sekolah dasar. Sayang aku lupa merekamnya. Maklum daya ingatku terhadap nama tergolong kurang.
Kini sudah 11 tahun sejak aku dinyatakan sebagai alumni. Ada satu buku kenangan yang aku simpan baik-baik. Buku ini berisi daftar nama-nama alumni pesantren putra… yang putri ga tertulis.. dan aku pun sekali lagi ga ingat satupun siapa nama mereka. Selain terisolasi pondokannya juga sudah bagian komitmen pontren untun menerapkan nilai-nilai Islami. Masih ingat dalam kenangan ketika belajar dengan 10 ikhwah di jurusan MIPA, biasanya jam belajar sering dilalui dengan rasa kantuk yang berat. Tak jarang, wajah sering nemplok di meja kursi....kursi sekaligus berfungsi sebagai meja belajar. Walau meja guru dibuat setinggi mungkin, kantuk yang menyerang sering tak menghiraukan sang ustadz.. maafin kami ya ustadz....Alhamdulillah, walau kondisi demikian kalau ujian rasanya ringan... semua bisa nempel ke kepala. Hingga kini aku sendiri tidak tahu sebabnya apa. Toh kalau alasannya sholat tahajud..juga rasanya ga tepat. sibuk dengan aktivitas? bisa jadi.
Semangat untuk mencari ilmu di pondok ini luarbiasa. Apalagi kalau musim ujian sekolah. Kemana-mana para santri bawa kitab or buku. Ngantri mandi juga kadang ga ketinggalan bawa kitabnya. Kebiasaan menghafal adalah salah satu tradisi santri. Hingga target 5 juz alqur'an pun bisa diraih, tentunya dengan perjuangan yang tidak ringan. Aku masih ingat sering menyendiri dilantai 3 gedung belajar yang berhadapan dengan lapangan basket, belajar di posisi ini cukup menyenangkan. Pemandangan gunung ciremainya yang indah dan suasana yang sejuk membuat aku betah disini. Terkadang juga bersama sohib-sohib yang lain ngobrol tentang banyak hal.
Ustadz yang mengajar juga berkompeten pada bidangnya. Sayangnya baru sekarang aku merasa belum maksimal menimba ilmu...ya terutama ilmu agama. Sering terasa ilmu agama yang diajarkan para ustadz hanya sekedar lewat telinga kanan, sebentar nyangkut dikepala ketika ujian, keluar lagi dari telinga kiri...ironisnya banyak santri yang "malu" untuk menunjukkan identitasnya. Sekedar memakai peci dan baju koko saja ketika keluar ponpes relatif sulit diterapkan. Apalagi kalau memakai gamis atau jubah???????? padahal aku baru sadar kini sunah rosul sangat penting dijalankan di kala banyak orang muslim justru bangga dengan mode orang kafir dan identik dengan barat.
Jazakumullah khoer jaza kepada semua asatidz, semoga Allah memberikan hidayah kepada jalan kebenaran selalu....Ustadz Damanhuri, S.T spesial....thx a lot udah kasih motivasi kepadaku.Walau aku ga tahu dimana sekarang? apakah masih di ponpes atau tidak....dimanapun berada semoga Allah senantiasa melindunginya.Lewat Blog ini, siapa tahu tali silaturahim kembali terjalin diatas tali Allah. swt.
Para sohib yang menjadi sahabat seiring sejalan kini barangkali sudah bertebaran entah kemana. Aku berharap mereka sukses dunia dan akherat, sebagaimana cita-cita kami. Lantunan nasyid dusturunal quran semoga tak hanya sekedar syair tanpa makna. Semoga pondokku semakin jaya, dekat dengan Sunnah, penegak amar ma'ruf nahi mungkar dan selalu membela dua pusaka Rosulillah Saw. Amin
Semoga Pondokku diatas Sunnah
Sekedar otokritik barangkali, Pondok yang konon salah satu kebanggaan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat daerah Maniskidul, Jalaksana, Kuningan Jawa Barat ini bukan berarti tanpa kelemahan. Sistem pembinaan santri yang cenderung berafiliasi kearah nilai tertentu memang mudah dibaca semua orang. Asatidz yang pastinya kader-kader PKS (dulu Partai Keadilan) sering menyusupkan pemahaman haraki.Konsep pemikiran yang dibawa dan disebarkan oleh Hasan Al Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin di Mesir, menjadi bagian tak terpisahkan dalam proses pembinaan para santrinya. Cenderung para santri di bentuk menjadi kader-kader militan IM.
Semoga Pondokku diatas Sunnah
Sekedar otokritik barangkali, Pondok yang konon salah satu kebanggaan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat daerah Maniskidul, Jalaksana, Kuningan Jawa Barat ini bukan berarti tanpa kelemahan. Sistem pembinaan santri yang cenderung berafiliasi kearah nilai tertentu memang mudah dibaca semua orang. Asatidz yang pastinya kader-kader PKS (dulu Partai Keadilan) sering menyusupkan pemahaman haraki.Konsep pemikiran yang dibawa dan disebarkan oleh Hasan Al Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin di Mesir, menjadi bagian tak terpisahkan dalam proses pembinaan para santrinya. Cenderung para santri di bentuk menjadi kader-kader militan IM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar