Senin, 18 Agustus 2014

Memilih Jalan Hidup

Kehidupan adalah sebuah perjalanan panjang. Semua terlahir dari ketiadaan yang kemudian diciptakan menjadi ada. Tak ada yang menyangkal hal ini, seorang atheis pun. Jadilah didunia ini ibarat seorang asing atau seorang yang merentas jalan, pengembara. Demikian pesan Rosulullah saw, dunia asing, hanya semu penuh godaan yang bakal sirna tak berbekas.

Dikala hari-hari demikian cepat berputar, detik masa terasa begitu cepat perubahanpun terus terjadi disegala sisi dan lini tak terkecuali alam pikiran kita. Di saat seperti ini kita akan berhadapan dengan banyak pilihan hidup, terutama jalan kebenaran...ya jalan manakah yang akan kita tempuh. Ingat, kita sedang dalam perjalanan panjang, alam ruh sudah terlewat, alam dunia sedang kita lalui bersama, alam kubur telah menunggu, berikutnya kita menunggu hingga ditiup sangkakala malaikat, hari berbangkitpun tiba. Padang Mahsyar tempat berikutnya, masih menunggu hingga 50,0000 tahun sampai tegak pengadilan sang Maha Bijaksana. Penghisabanpun dimulai...penimbangan amal di lakukan....pembagian "rapot" siap dilaksanakan...dimanakah posisi kita???

Sungguh perjalanan panjang yang melelahkan bukan? Dunia hanya kisaran puluhan tahun. inipun jika umur kita panjang sementara akherat?!! kekal abadi. Manakah yang kita akan pilih?

Orang cerdas pasti memilih kehidupan akherat yang kekal...hanya ada dua tempat Syurga atau neraka. Tinggal pilih. masing-masing ada jalan yang harus ditempuh, semua orang dibekali oleh sang Pencipta untuk memilih jalan tersebut. Ada penglihatan, pendengaran, akal dan hati semua adalah alat bantu menentukan pilihan. Jalan mana yang sedang kita lalui saat ini?

Ternyata kasih sayang Allah swt. tidak sampai di sini saja. Diutusnya Rosulullah saw adalah bukti lain bahwa Dia  azza wajalla menyayangi kita. Tapi aneh kita enggan mengikutinya.  Masih saja banyak manusia yang memilih jalan yang nyata-nyata menyimpang, kelam, penuh dengan racun kehidupan dan jauh dari cahaya kebenaran. Sudah bukan rahasia bahwa Al Qur'an adalah kitab yang eksis hingga kini dan sampai kiamat. Berita-berita yang dibawa kitab tersebut telah terbukti satu persatu. Tapi aneh juga, manusia justru menjauhinya, melecehkan, menghinakan dan enggan untuk menjalankan perintah yang tertulis didalamnya. Tentu saja, siapa yang ingin selamat dalam hidup dunia dan akheratnya maka ia  harus mengambil Kitab       Al Qur'an sebagai satu-satunya cahaya hidupnya dan As Sunnah sebagai pedoman berikutnya. Bagaimana dengan jalan-jalan lain? Apakah juga akan menghantarkan pengikutnya selamat dunia akherat?.

Semua bisa saja mengaku diatas kebenaran. Semua mengaku akan masuk syurga yang abadi penuh kenikmatan....tetapi kebenaran menurut siapa? Jaminan masuk syurga dengan buki-bukti apa? Hujjah apa yang dipegang hingga berani mengklaim dirinya penghuni syurga? Orang yang mengaku Muslim, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, Majusi, Baha'i atau apappun agama yang dianutnya harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jika tidak, maka tentu klaim dirinya diatas kebenaran adalah klaim yang sia-sia dan omong kosong belaka.....Bagaimana dengan kita???

"Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani." Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar." (QS. Albaqoroh:111)











Tidak ada komentar:

Posting Komentar