Sabtu, 02 Januari 2016

Muhasabah



Bismillah

Muhasabah

Waktu terus berjalan mengiringi gerak kehidupan manusia. Hakekat waktu yang dimiliki manusia adalah apa yang dimanfaatkan untuk melakukan beragam jenis ibadah kepada Allah. Sementara waktu yang digunakan untuk hal-hal yang bersifat mubah atau bahkan muharromah tidak bernilai kebaikan disisiNya, bisa jadi justru menjadi sesuatu beban yang memberatkan saat proses penghisaban. Lebih hina lagi manakala waktu yang di anugerahkan oleh sang Kholik dihabiskan layaknya hewan-hewan rendahan ciptaanNya; memenuhi hawa nafsu, makan, minum, dan memuaskan hasrat seksual saja, tiada lain.

Agar senantiasa kehidupan ini terarah sangat dibutuhkan adanya muhasabah. Hawa nafsu selalu memerintahkan kejelekaan dan membutuhkan pengobatan. Pengobatan pertama dengan muhasabah diri, mengkoreksi, mengevaluasai perjalanan kehidupan yang dilewatinya dan yang kedua menyelisihi hawa nafsu tersebut; mengisi waktu dengan aneka amal kegiatan yang semuanya bertentangan dengan keinginan hawa nafsu. Kedua hal ini menjadi standar apakah hati itu akan selamat atau binasa. Tanpa muhasabah, jiwa akan terlena dan hanyut dengan aneka kesesatan tanpa disadari, merasa telah berada diatas jalan yang lurus padahal sedang menyimpang jauh atau bahkan larut dalam hiruk-pikuk kemegahan dunia dengan aneka tipu dayanya.

Muhasabah nafs atau muhasabah jiwa tersebut ada dua macam, muhasabah sebelum beramal dan muhasabah nafs setelah beramal. Muhasabah jiwa sebelum beramal ada  empat fase yang menjadi bahan pertimbangan sebelum beramal ketika ada keinginan yang kuat untuk beramal. Fase tersebut adalah sebagai berikut:

  • Pertama melihat kemampuan diri, jika tidak mampu untuk dikerjakan sebaiknya ditunda hingga mampu melakukannya. Allah tidak membebani kecuali sebatas kemampuan manusia. Pemaksaan diri saat tidak ada kemampuan dalam mengerjakan sesuatu hanya akan membuat jiwa binasa, takaluf. Jika mampu untuk mengerjakan maka dia berlanjut ke fase kedua.

  • Kedua  pertimbangan sisi kebaikannya dan manfaatnya, apakah melakukannya lebih baik atau meninggalkannya justru lebih baik. Jika melakukan pekerjaan tersebut ternyata lebih baik maka berlanjut ke fase pertimbangan berikutnya.

  • Ketiga pertimbangan niat, apakah yang membangkitkan untuk beramal itu kehendak untuk mendapatkan wajah Allah dan balasan dariNya atau justru ada niat untuk memperoleh dunia, kedudukan, pujian, dan harta dari manusia/ makhluk. Jika yang kedua ini yang membangkitkan niat kita sebaiknya berhenti untuk mengerjakannya.

  • Ke empat, apakah pekerjaan itu membutuhkan bantuan atau pertolongan orang lain atau tidak. Jika berupa amal jamai/ amal yang bersifat sosial yang membutuhkan bantuan pihak lain, tidak melakukannya hingga ada bantuan yang membuatnya mampu tegak beramal
Manakala keempat fase tersebut terlewati  dengan benar, maka Insyaallah kesuksesan ada didepan mata. Sukses disini adalah sukses dunia dan akheratnya. Namun jika hilang salah satunya, bisa dipastikan kegagalan sudah diambang pelupuk mata.

Sementara muhasabah setelah beramal, kita mulai dari hal-hal yang wajib. Pertama muhasabah tentang penunaian hak Allah azza wajalla. Apakah kewajiban kita sebagai hambaNya sudah terlaksana dengan baik, penuh ihsan dalam melakukanya, sesuai dengan tuntunan Rasullullah saw dan generasi terbaik umat ini. Berikutnya muhasabah dengan hal-hal yang haram, apakah amal kita telah bercampur dengan riya, sum'ah atau tujuan-tujuan keduniaan lain. Lebih jauh lagi, apakah amalan kita mengandung hal-hal yang mubah yang berpotensi menyeret kita pada hal yang makruh atau haram. Adakah amal pekerjaan kita yang telah kita kerjakan tersebut lebih baik kita tinggalkan daripada kita lakukan lagi dimasa datang karena mengandung keburukan yang jauh lebih besar daripada kebaikannya.....waallah a'lam bishowaab (sumber referensi sebuah kajian muhasabah karya Ibnul  Qoyyim al Jauziyah rh)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar